Allah telah menciptakan semua makhlukNya secara sempurna dengan segala kelengkapannya, termasuk rezekinya masing-masing. Tak satupun diantara makhlukNya yang Dia telantarkan, termasuk diri kita. Pada prinsipnya, semua kebutuhan makhluk terhadap rezeki telah dijamin pemenuhannya oleh Allah Ta'ala. Namun, agar rezeki itu bisa sampai ke tangan sang makhluk maka dibutuhkan partisipasi aktif dan usaha untuk menjemputnya. Karena itu, tidak salah jika Aa' Gym, Ustadz Yusuf Mansur, dan lainnya lebih suka mengatakan "menjemput rezeki" daripada "mencari rezeki".
Namun perlu diketahui dan disadari, makna sejati rezeki bukanlah sekadar uang, melainkan juga ilmu, kesehatan, ketenteraman jiwa, pasangan hidup, keturunan, nama baik, persaudaraan dan ketaatan. Semua itu adalah rezeki, bahkan nilainya lebih tinggi bila dibandingkan dengan uang.
Jika merasakan rezeki kita susah, seret, lambat itu berarti kita kurang berusaha untuk menjemput rezeki yang telah Allah swt sediakan. Bisa juga karena kita malas dan enggan menjemputnya. Atau mungkin juga karena profesionalitas kita dalam bidang usaha yang kita geluti kurang tepat. Namun bisa pula seretnya rezeki disebabkan oleh kondisi tertentu dalam diri kita yang akhirnya membuat Allah "MENAHAN" rezeki untuk kita. Poin terakhir inilah yang akan kita kupas dan ulas disini. Mengapa aliran rezeki kita terhalang, tersumbat, atau terhambat? Apa saja penyebabnya?
1. Hilangnya rasa tawakal kepada Allah swt
Terkadang saat kita mendapatkan apa yang kita inginkan, kita lupa dari siapa rezeki itu datang. Banyak orang menganggap rezeki yang berlimpah adalah hasil dari jerih payah sendiri. Mereka tidak ingat bahwa semuanya itu tidak terlepas dari faktor "X" yaitu Allah Yang Maha Pemurah dan Pengasih.
Terkadang saat kita mendapatkan apa yang kita inginkan, kita lupa dari siapa rezeki itu datang. Banyak orang menganggap rezeki yang berlimpah adalah hasil dari jerih payah sendiri. Mereka tidak ingat bahwa semuanya itu tidak terlepas dari faktor "X" yaitu Allah Yang Maha Pemurah dan Pengasih.
Allah telah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi, "Aku menurut dengan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepada-Ku" (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi). Maka pada saat ita berpongah-pongah ria dan lupa kepada-Nya maka Dia akan menganggap kita tidak lagi membutuhkannya. Disaat itulah Allah berpaling dari kita dan mencabut faktor "X" yang sebetulnya banyak mendominasi keberhasilan usaha kita."Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya," demikian janji Allah dalam QS.Ath Thalaq [65]:3
2. Terlalu banyak dosa dan maksiat
Terlalu banyak dosa dan maksiat akan membuat hati kita tertutup debu, memupuskan setiap doa yang dipanjatkan ke langit. Bahkan, dosa yang terlampau banyak dapat menutup pintu rezeki. Jika pintu itu telah tertutup maka kita harus membukanya, dan tiada kunci yang dapat membukanya kecuali bertaubat. Jadi, jika kita merasa rezeki seret, cobalah berinstropeksi diri, dosa apa saja yang telah kita perbuat selama ini.
Nabi saw pernah memberi nasihat, "Tiada sesuatu yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan tiada yang dapat menambah umur kecuali amal kebajikan. Sesungguhnya seorang diharamkan rezeki baginya disebabkan dosa yang diperbuatnya." (H.R.Tirmidzi dan Hakim)
Dalam hadits lain Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya seseorang terjauh dari rezeki disebabkan oleh perbuatan dosanya." (H.R.Ahmad)
3. Proses pencarian rezeki yang tidak bersih.
Kehidupan manusia zaman sekarang memang telah tertutup oleh kenikmatan duniawi yang sifatnya hanya sesaat. Demi memperoleh kekayaan, tak ayal mereka melakukan cara-cara keji untuk menumpuk harta benda. Tak jarang ada juga yang memakai dukun atau cara yang zhalim. Tak mengherankan, karena proses pencarian yang tidak halal inilah yang membuat Allah murka dan menyumbat pintu rezekinya.
Sebagai seorang muslim, jangan pernah kita menutup pintu rezeki dengan mengumbar dosa dan maksiat. Apabila rezeki itu datang terlambat, janganlah kita berputus asa dan menempuh cara-cara dosa untuk mendapatkannya. Rasulullah saw telah bersabda, "Sesungguhnya Ruhul Qudus (Malaikat Jibril) membisikkan dalam benakku bahwa jiwa tidak akan wafat sebelum lengkap dan sempurna rezekinya. Karena itu hendaklah kamu bertakwa kepada Allah dan memperbaiki mata pencaharianmu. Apabila datangnya rezeki itu terlambat, janganlah kamu memburunya dengan jalan bermaksiat kepada Allah karena apa yang ada di sisi Allah hanya bisa diraih dengan ketaatan kepada-Nya." (H.R. Abu Dzar dan Hakim)
4. Dalam bekerja sering melupakan Allah
Ciri-ciri paling mudah ditemui adalah meremehkan shalat. Ketika kita benar-benar sibuk dan tiba waktunya shalat, kita cenderung menunda-nunda. Seolah lebih mementingkan pekerjaan daripada shalat. Bahkan yang berbahaya lagi adalah sampai meninggalkan shalat gara-gara sibuk dengan pekerjaan. Atau bisa juga berupa ketidakjujuran dalam berbisnis. Kita menganggap tidak ada yang tau kebohongan kita. Itu artinya, kita sudah melupakan Allah yang selalu mengamati kita dan mengetahui setiap tindakan kita. Kalau kita lupa kepada-Nya maka Dia pun akan melupakan kita.
Bertanyalah kepada diri sendiri, apakah aktivitas kita selam ini membuat hibungan kita dengan Allah makin menjauh? Terlalu sibuk bekerja sehingga lupa shalat (atau minimal jadi telat), lupa membaca Alquran, lupa mendidik keluarga, adalah sinyal-sinyal pekerjaan kita tidak berkah. Jika sudah demikian, jangan heran apabila rezeki kita akan tersumbat. Idealnya, semua pekerjaan harus membuat diri kita semakin dekat dengan Allah. Sibuk boleh, namun jangan sampai hak-hak Allah kita abaikan. Para salafush-shalih memberi petuah bahwa bencana sesungguhnya bukanlah bencana alam yang menimpa orang lain, tetapi bencana sesungguhnya adalah saat kita semakin jauh dari Allah swt.
5. Enggan Bersedekah
Siapa pun yang kikir dan pelit, niscaya hidupnya akan sempit, rezekinya pun akan sulit. Sebaliknya, sedekah adalah penolak bala, penyubur kebaikan serta pelipat ganda rezeki. Sedekah bagaikan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat.
Allah swt berfirman, "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus bija. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Q.S. Al-Baqarah [2]:261)
Tidakkah kita tertarik dengan janji Allah ini? Maka pastikan, tiada hari tanpa sedekah, tiada hari tanpa kebaikan. Insya Allah, Dia akan membukakan pintu-pintu rezeki untuk kita. Aamiin.
Sumber: Buku Tahajud dan Dhuha Karya Ibnu Rif'ah dan Baba Rusyda
#Semoga Bermanfaat Akhi dan Ukhti :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar